Pengertian Dasar Blockchain

      Sudah tidak dipungkiri lagi perkembangan teknologi yang sangat pesat. Berbagai inovasi teknologi dikembangkan dan diperkenalkan dari masa ke masa. Salah satu yang sangat menarik perhatian publik adalah teknologi blockchain. Mengapa penulis katakan sangat menarik perhatian? Hal ini dikarenakan inovasi teknologi blockchain memiliki berbagai kelebihan yang bisa digunakan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang berkaitan dengan keamanan data, privasi, kecepatan pengolahan data, desentralisasi sistem, dan kelebihan-kelebihan lainnya serta bisa diterapkan secara global dalam berbagai bidang. Tentu, kelebihan-kelebihan inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat modern.

Lalu, apa itu blockchain? Blockchain secara bahasa artinya adalah rantai block. Sedangkan secara istilah yang lebih rinci blockchain merupakan blok-block yang menampung data yang saling terhubung blok yang satu dengan yang lainnya membentuk jaringan. Semua transaksi data akan tersebar keseluruh perangkat jaringan untuk diolah, direcord, dan diverifikasi oleh seluruh perangkat jaringan yang ada (jaringan peer to peer). Pengolahan datanya menggunakan teknik kriptografi. Teknik kriptografi merupakan teknik pengkodean data melalui proses enkripsi dan dekripsi sehingga data tidak mudah dibaca oleh pihak lain. Dengan demikian maka keamanan dan kerahasiaan data akan sangat terjaga. Dalam sistem Blockchain, ada 2 record utama yaitu transaksi data dan blok data. Transaksi-transaksi ini akan terkumpul dalam blok. Setiap blok berisi hash kriptografi. Hash adalah sebuah digital fingerprint atau identitas dari sebuah data digital. Hash pada umumnya dienkripsi dengan algoritm SHA-256. Fungsi dari hash kriptografi ini adalah untuk mengambil data dari block sebelumnya dan mengubanhnya menjadi compact string (hash pada blok itu sendiri). Jadi hash ada 2 macam, yaitu hash dari blok itu sendiri dan hash dari blok sebelumnya. Dengan adanya hash kriptografi, maka akan mudah untuk mendeteksi adanya sabotase atau gangguan dari pihak luar sekaligus menverifikasi valid atau tidaknya sebuah transaksasi. Salah satu implementasi dari teknologi blockchain adalah cryptocurrency.

     Cryptocurrency adalah mata uang digital yang menggunakan teknik kriptografi. Salah satu cryptocurrency yang paling terkenal adalah Bitcoin (BTC). Muncul Bitcoin ini sekaligus memperkenalkan teknologi blockchain ke masyarakat umum untuk yang pertama kalinya pada tahun 2009 oleh seseorang atau kelompok developer yang menamakan dirinya Satoshi Nakamoto (masih belum diketahui secara pasti Satoshi Nakamoto merupakan nama seseorang atau nama sebuah kelompok). Kemudian teknologi ini ditingkatkan menjadi Blockchain versi 2.0. Dan sampai tahun 2018 ini sudah menjadi Blockchain versi 4.0. Blockchain bekerja pada jaringan peer to peer. Setelah Bitcoin, muncul banyak project  cryptocurrency yang lainnya seperti Ethereum (ETH), Litecoin (LTC), EOS, MetaHashCoin (MHC), Omesigo, Ripple (XRP), dan masih banyak yang lainnya.

     Teknologi blockchain bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam bidang development, seperti layanan perbankan, industri, cloud storage terdesentralisasi, aplikasi terdesentralisasi (dApps), dan masih banyak yang lainnya. Berbagai perusahaan sudah mulai banyak yang mengadopsi teknologi ini untuk berbagai kebutuhan dan banyak pengembangan blockchain yang sedang dirintis. Teknologi blockchain bekerja dalam jaringan peer to peer dan terdesentralisasi keseluruh jaringan yang ada. Teknologi blockchain tidak membutuhkan pihak ketiga. Semua transaksi direcord dan diverifikasi oleh seluruh perangkat yang ada didalam jaringan. Hal ini membuat blockchain sangat sulit untuk di hack atau dirusak oleh pihak lain. Hacker perlu men hack semua komputer yang ada dalam jaringan diseluruh dunia secara bersamaan agar bisa berhasil. Tentu hal ini akan sangat sulit dilakukan. Itulah kelebihan dari jaringan terdesentralisasi dibandingkan dengan jaringan tersentralisasi yang banyak digunakan sekarang.

Banyak pihak analis yang memprediksi masa depan blockchain. Ada yang beranggapan bahwa blockchain khususnya cryptocurrency akan jatuh karena belum ada kepastian regulasi yang jelas di beberapa negara, larangan penggunaan crypto currency di beberapa negara dengan alasan rawan terhadap kejahatan pencucian uang (money laundering). Tapi banyak juga negara-negara yang sudah menanggapi positif cryptocurrency dan mendukung pengembangan teknologi blockchain seperti Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, Singapura dan negara lainnya. Mereka yakin bahwa perkembangan blockchain akan pesat dan kebutukan cryptocurrency sebagai sarana/alat transaksi dalam mendukung sistem blockchain akan meningkat. Dari banyak analisa berbagai pihak tentang masa depan blockchain yang mempunyai alasannya masing-masing, penulis sependapat bahwa teknologi blockchain akan mendapat tanggapan yang positif oleh masyarakat global dan akan berkembang pesat penggunaannya diberbagai bidang. Termasuk kebutuhan cryptocurrency sebagai alat transaksi dalam sistem blockchain. Banyak investor yang tertarik untuk berinvestasi cryptocurrency dengan harapan harga aset digital tersebut akan meningkat tajam di masa mendatang dan bisa memudahkan dalam melakukan transaksi global.


Be Sociable, Share!

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *